Jumat malam. Diskon gede.
Andi buka Steam. Wishlist 47 game. 12 diskon. 6 lagi diskon 80%.
Dia tambahin ke cart. Checkout. 900 ribu lenyap.
Dia buka library. 500.
Sudah.
Nggak dimainin.
Cuma dipandang. Kayak koleksi prangko. Kayak buku di rak. Kayak sepatu di etalase.
Gue chat: “Lu main apa?”
“Gue beli game.”
“Dimainin?”
“Nggak. Beli aja.”
Keyword utama: Steam library penuh 500 game.
LSI: budaya beli game, kolektor digital, backlog anxiety, FOMO gamer, beli sebagai koping.
Dulu Beli Karena Mau Main. Sekarang Beli Biar Punya.
Gue ingat 2007. Warnet. Flashdisk 1 GB. Bajak.
Gue pilih game satu-satu. Nggak bisa banyak. Kapasitas terbatas. Harus bener-bener yakin: gue bakal mainin ini sampe tamat.
Sekarang? 1 klik. 50 GB. Download semalem. Besok? Nggak ke klik.
Steam library penuh 500 game bukan lagi koleksi.
Ini kuburan potensi.
Setiap game adalah janji: suatu saat gue mainin. Tapi janji itu nggak pernah ditepati. Dan lo tetap beli lagi. Beli lagi. Beli lagi.
Karena sensasi beli itu lebih mudah daripada sensasi main.
Main butuh waktu. Butuh fokus. Butuh hadir.
Beli? Cuma butuh kartu kredit.
Tiga Kolektor yang Nggak Main, Tapi Tetap Beli
1. Andi: 500 Game, 4.000 Jam Nonton, 200 Jam Main
Andi (34) IT consultant. Gaji cukup. Tiap bulan sisihin 500 ribu buat game.
Steam library: 512. Epic Games: 147. GOG: 39. Xbox Game Pass: nyewa tapi nggak pernah dipasang.
Gue tanya: “Kapan terakhir tamat game?”
Diem.
“2021. It Takes Two. Main sama mantan.”
“Oh.”
“Sekarang udah tamat. Hubungannya juga.”
Andi buka library. Scroll. Nunjukin Elden Ring.
“Ini beli 2022. Gue mati 40 jam. Nggak tamat.”
Baldur’s Gate 3.
“Ini beli 2023. Act 1 doang. 80 jam. Act 2 gue lupa karakternya siapa.”
Red Dead Redemption 2.
“Ini beli 2019. Gue hunting. Baju kuda. Makan. Mandi. 60 jam. Masih Chapter 3.”
Gue tanya: “Lu seneng mainnya?”
“Seneng. Tapi gue nggak punya energi buat hadir.”
Andi nonton streamer main 4 jam sehari. Tapi main sendiri? Nol.
“Mereka main buat gue. Gue tinggal nonton. Nggak perlu effort.”
Data fiktif realistis: Riset SteamID 2026 (n=3.500 gamer >500 library) menunjukkan rata-rata game yang ditamatkan hanya 6,4% dari total koleksi. 73% responden mengaku lebih sering membeli game daripada memainkannya. Alasan utama: FOMO dan kepuasan instan.
2. Riko: 27 Tahun, 600 Game, dan Kebiasaan Beli Sebelum Tidur
Riko (27) kerja remote. Stres. Tiap tengah malam, dia buka Steam.
“Kayak ritual. Jam 12 lewat, gue nggak bisa tidur. Gue buka Steam. Lihat diskon. Beli satu atau dua. Tidur.”
Gue tanya: “Dimainin?”
“Besoknya gue coba 15 menit. Kadang suka. Kadang nggak. Tapi udah beli. Udah punya.”
“Lu nggak nyesal?”
“Nggak. Malah tenang. Kayak… ada sesuatu yang nunggu gue.”
Riko nyebut ini koleksi penenang.
“Di luar gue kacau. Deadline. Klien minta revisi. Rekan kerja toksik. Tapi library gue rapi. 600 game. Semua terorganisir. Semua milik gue.”
Gue diem.
“Gue tahu ini nggak sehat. Tapi setidaknya, sesuatu di hidup gue utuh.”
3. Dewi: Beli Karena Takut Ketinggalan, Main Karena Takut Rugi
Dewi (29) nggak terlalu suka game berat. Tapi koleksinya 350.
“Gue beli karena semua orang beli. Elden Ring? Beli. Baldur’s Gate? Beli. Cyberpunk? Beli pas rilis—padahal bug di mana-mana.”
Gue tanya: “Tapi dimainin?”
“Elden Ring gue main 10 jam. Nyerah. Baldur’s Gate gue main 20 jam. Berhenti di Act 2. Cyberpunk? Malah belum diinstall.”
Dewi nyebut ini fear of missing out.
“Gue takut diskusi sama teman terus gue nggak tahu. Bukan karena gue pengen main. Tapi karena gue nggak mau ketinggalan.”
Sekarang Dewi punya backlog anxiety.
“Setiap gue buka Steam, gue lihat deretan game belum dimainin. Itu kayak utang. Gue stres sendiri.”
“Dimainin?”
“Nggak. Gue tutup. Buka Netflix.”
Common Mistakes: Yang Sering Salah soal Kolektor Game
1. “Mereka hobi beli game, nggak masalah.”
Masalahnya bukan di beli. Masalahnya di fungsi. Beli jadi pengganti main. Beli jadi koping. Beli jadi pelarian dari rasa hampa. Uang bukan isu. Kesehatan mental isunya.
2. “Solusinya: stop beli.”
Nggak semudah itu. Beli game buat sebagian orang udah jadi kompulsif. Mereka tahu nggak perlu. Tapi tetap beli. Ini bukan soal kontrol diri. Ini soal kebiasaan dan reward system yang korslet.
3. “Mereka harus disuruh main.”
Disuruh main nggak akan bikin mereka main. Mereka tahu harus main. Tapi beban harus itu bikin mereka makin menjauh. Game jadi PR. Bukan hiburan.
Kenapa 2026 Jadi Puncak Budaya Beli Tanpa Main?
Karena 2026 adalah tahun akses tanpa batas bertabrakan dengan energi terbatas.
Dulu, akses itu mahal. Game 600 ribu. Koneksi lemot. Download seminggu. Lo beli satu, lo pikir-pikir 10 kali. Lo mainin sampe item terakhir.
Sekarang? Diskon tiap minggu. Game Pass murah. Koneksi 100 Mbps. Beli? 2 klik. Download? 20 menit.
Mudah. Terlalu mudah.
Tapi energi mental lo nggak nambah. Lo tetap pulang capek. Otak tetap penat. Lo buka library, lihat 500 game, dan satu-satunya yang lo mampu: nonton orang lain main.
Steam library penuh 500 game bukan kebanggaan.
Ini bukti: lo punya banyak pilihan, tapi nggak punya tenaga buat milih.
Yang Masih Bisa Dilakukan: Dari Kolektor Kembali Jadi Pemain
1. Arsipkan game yang nggak akan pernah lo main.
Bukan dihapus. Cuma disembunyiin. Steam ada fitur hide. Pakai. Lo nggak perlu lihat 500 game tiap buka library. 500 itu beban visual. Kurangi jadi 50. Itu dulu.
2. Hapus 5 game yang lo beli karena FOMO.
Lo tahu mana game yang lo beli cuma karena lagi diskon atau semua orang ngomongin. Hapus. Refund nggak bisa. Tapi hapus aja. Lega.
3. Main satu game—tanpa target tamat.
Jangan target: “Gue harus tamat 2 minggu.” Target: “Gue main 30 menit, santai, nggak mikir progress.” Balikin rasa main, bukan rasa kerja.
4. Stop beli game 3 bulan.
Ini berat. Tapi perlu. Lo harus belajar lagi: cukup itu bukan hukuman. Lo punya 500 game. Masa nggak ada satu pun yang lo mau mainin?
5. Bedakan kolektor dan pemain.
Lo boleh jadi kolektor. Tapi jangan lupa: lo dulu pemain. Pemain itu main. Bukan cuma beli.
Jadi, Apakah Lo Gagal Jadi Gamer?
Nggak.
Lo cuma kecapekan.
Budaya beli tanpa main bukan karakter lo. Ini respons lo terhadap dunia yang minta terlalu banyak.
Lo beli game karena itu satu-satunya hal yang bisa lo kendalikan. Lo beli, lo punya. Selesai. Nggak ada deadline. Nggak ada target. Nggak ada yang nge-judge.
Tapi sekarang—mungkin waktunya lo main lagi.
Bukan tamatin semua. Bukan ngurangin backlog. Bukan kompetisi.
Cuma main.
30 menit. Nggak mikir apapun.
Kayak dulu.